Berita

Di Antara Janji dan Harapan, Ada Hati yang Hancur Karena Cinta yang Tidak Pernah Sungguh

32
×

Di Antara Janji dan Harapan, Ada Hati yang Hancur Karena Cinta yang Tidak Pernah Sungguh

Sebarkan artikel ini
Foto: Rudy Kurnaiawan

Opini

Sumenep,News360.id– Ada luka yang tidak terlihat oleh mata. Tidak meninggalkan bekas di kulit, tidak mengeluarkan darah, tetapi mampu membuat seseorang menangis dalam diam selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Luka itu bernama harapan.

Harapan yang tumbuh dari kata-kata manis. Harapan yang lahir dari perhatian kecil yang diberikan setiap hari.

Harapan yang perlahan menjelma menjadi keyakinan bahwa seseorang akan tinggal, padahal diam-diam ia sedang bersiap untuk pergi.

Mungkin banyak orang pernah berada di posisi itu.

Mencintai seseorang dengan seluruh hati, sementara orang yang dicintai hanya menikmati rasa dicintai.

Memberikan segalanya, sementara yang diterima hanya janji.

Bertahan dengan segala luka, sementara yang lain perlahan mencari bahagia di tempat yang berbeda.
Yang paling menyakitkan bukan ketika hubungan itu berakhir.

Yang paling menyakitkan adalah ketika kita mengingat betapa tulusnya diri kita saat itu.

Betapa kita pernah rela mengalah demi mempertahankan seseorang.
Betapa kita pernah menangis sendirian agar hubungan tetap baik-baik saja.

Betapa kita pernah memohon kepada Tuhan setiap malam agar orang itu tetap tinggal.

Sementara orang yang kita perjuangkan bahkan tidak pernah berjuang dengan cara yang sama.
Ada malam-malam yang tidak diketahui siapa pun.

Malam ketika seseorang menatap layar ponsel berjam-jam hanya untuk menunggu satu pesan yang tak pernah datang.

Malam ketika seseorang berpura-pura tidur agar tidak terlihat sedang menangis.

Malam ketika dada terasa sesak karena merindukan orang yang perlahan berubah menjadi asing.

Dan yang lebih menyakitkan lagi, orang yang dirindukan itu tetap bisa tertawa bahagia tanpa pernah memikirkan luka yang ditinggalkannya.

Betapa kejamnya kenyataan ketika seseorang yang dulu berkata, “Aku tidak akan meninggalkanmu,” justru menjadi orang pertama yang pergi tanpa penjelasan.

Betapa menyakitkannya ketika seseorang yang pernah berkata, “Aku akan selalu ada,” ternyata menghilang saat kita paling membutuhkan.
Lalu kita mulai bertanya pada diri sendiri.

Apa aku kurang baik?
Apa aku kurang setia?
Apa aku kurang mencintai?
Padahal sering kali jawabannya bukan karena kita kurang apa-apa.

Kita hanya mencintai orang yang salah dengan cara yang terlalu tulus.
Ada tangisan yang tidak pernah terdengar.

Tangisan seorang perempuan yang tetap tersenyum di depan keluarganya meski hatinya hancur setiap malam.

Tangisan seorang laki-laki yang terlihat kuat di hadapan banyak orang, tetapi diam-diam menangis saat mengenang seseorang yang telah pergi.

Tangisan yang tidak membutuhkan suara, karena hatinya sudah terlalu lelah untuk berteriak.

Dan sampai hari ini, mungkin masih ada seseorang yang diam-diam membaca tulisan ini sambil menahan air mata.

Seseorang yang masih menyimpan foto-foto lama.
Masih mengingat tanggal-tanggal penting.

Masih berharap pesan yang ditunggu akan datang.

Padahal jauh di sana, orang yang diharapkannya mungkin sudah menjalani hidup baru tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Begitulah cinta yang tidak pernah sungguh-sungguh.

Ia datang seperti rumah, tetapi pergi meninggalkan reruntuhan.

Ia datang membawa harapan, tetapi meninggalkan seseorang hidup bersama kekecewaan.

Ia mengajarkan arti bahagia, lalu memaksa seseorang belajar hidup dengan luka.

Namun ada satu kenyataan yang harus diterima meski terasa sangat pahit:

Tidak semua yang kita perjuangkan ditakdirkan untuk menjadi milik kita.
Kadang Tuhan membiarkan hati kita hancur bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan kita dari seseorang yang tidak pernah benar-benar menghargai cinta yang kita berikan.

Dan ketika suatu hari luka itu sembuh, kita akan sadar bahwa yang membuat kita menangis selama ini bukan karena kehilangan seseorang.

Melainkan karena kita terlalu lama mempertahankan seseorang yang sejak awal tidak pernah berniat menetap.

“Aku tidak sedih karena kamu pergi. Aku sedih karena selama ini aku mengira aku sedang dicintai.”

“Yang paling menyakitkan bukan perpisahan. Yang paling menyakitkan adalah ketika semua kenangan masih hidup di dalam hati kita, sementara kita sudah mati di dalam hati orang yang kita cintai.”

“Aku pernah menjadikanmu doa terbaikku. Namun ternyata, aku hanya menjadi pelajaran yang mudah kamu lupakan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *